Sabtu, 11 September 2010

Kuliah Kerja Nyata (Buku Ir. Hendri A. Saleh, MA)

1.
Lintas Sejarah Kuliah Kerja Nyata

A. KKN Era 50-an
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu mata kuliah di perguruang tinggi yang termasuk kelompok Mata Kuliah Pilihan (MKP). Namun pada era 50-an hingga 70-an merupakan sesuatu yang harus ada pada suatu perguruan tinggi. Sehingga meskipun MKP tapi dalam prakteknya menjadi wajib. Mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya wajib mengikuti KKN.
Ketika itu, salah satu faktor penyebab sehingga KKN menjadi wajib, karena perguruan tinggi menfasilitasi secara berlebihan, di lain pihak, mahasiswa ingin dan bergembira bila hendak ber-KKN.
Fasilitas berlebihan yang ditunjukkan pada perguruan tinggi tampak pada disediakannya waktu khusus sekitar tiga bulan untuk melaksanakan KKN. Praktis pada jadwal waktu terrsebut mahasiswa tidak dapat mengikuti perkuliahan untuk mata kuliah yang lain, sementara uang kuliah tetap juga harus dibayar. Maka tidak ada pilihan lain bagi mahasiswa kecuali mengikuti KKN.
Selain itu, penanganan KKN tidak hanya dilakukan dosen pengasuh mata kuliah tersebut, tapi juga dikerjakan oleh Bagian/Lembaga Penelitian/Pengabdian Masyarakat Perguuan tinggi tersebut.
Lembaga khusus yang ada di perguruan tinggi itu mengurusi masalah perizinan pelaksanaan KKN, segala surat-menyurat yang diperlukan, mencari lokasi KKN, hingga melobi berbagai pihak untuk kesuksesan pelaksanaan KKN.
Hal itu mereka lakukan tentu karena juga berhubungan dengan beban tugas yang diberikan pimpinan perguruan tinggi tersebut kepada lembaga itu.
Sedangkan tugas tersebut diberikan pimpinan perguruan include dengan tujuan berdirinya Bagian/Lembaga Penelitian/Lembaga Pengabdian Masyarakat tersebut, yaitu untuk menjawab tuntutan dharma ketiga dan Tri Darma Perguruan Tinggi.
Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut adalah :
1. Membentuk manusia susila yang berjiwa pancasila dan bertanggungjawab akan terwujudnya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur.
2. Menyiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi dan yang berdiri sendiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.
3. Melakukan penelitian dan usaha kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kebudayaanndan kehidupan masyarakat.
Inti dari dharma pertama dan kedua dari Tri Dharma Perguruan Tinggi Tersebut adalah penyelenggaraan proses belajar dan mengajar. Sedangkan inti dharma ketiga adalah perguruan tinggi harus melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat.
Sekarang tampak jelas hubungan antara mata kuliah KKN dengan Bagian/Lembaga Penelitian/Pengabdian Masyarakatyang terdapat di perguruan tinggi. Artinya konsep dan tenaga pelaksana penelitian/pengabdian kepada masyarakat dikerjakan oleh dosen pengasuh mata kuliah KKN, sedangkan segala fasilitas untuk memujudkan penelitian/pengabdian masyarakat iru dikerjakan oleh Bagian/Lembaga Penelitian/Pengabdian Masyarakat.
Dari sisi mahasiswa, mengikuti KKN akan memberikan beberapa keuntungan :
1. Ada kesempatan refresing ke luar kampus (biasanya di desa-desa)
2. Ada kesempatan memperluas pengalaman dan pengetahuan tentang demoggrafi daerah.
3. Dapat mengaktualisasikan diri di tengah-tengah masyarakat.
4. Dapat memperoleh nilai tinggi, sebab kecil kemungkinan peserta KKN tidak lulus mata kuliah tersebut, bahkan umumnya dosen pengasuh (dosen pamong) KKN akan memberikan nilai A minimal bagi peserta KKN.
5. Dapat mewujudkan tujuan pribadi-pribadi lainnya.

Bagi perguruan tinggi itu sendiri pelaksanaan KKN akan memberikan nilai tambah, yakni memperkenalkan keberdaan perguruan tinggi tersebut kepada masyarakat, sehingga pada waktunya akan memperoleh umpan balik.
Hal yang menggiurkan lainnya pada pelaksanaan KKN adalah terciptanya hubungan antra dunia kampus dengan aparat pemerintahan. Sebab umumnya aparat pemerintah menyambut kehadiran peserta KKN dengan berbagai acara tradisi.



B. KKN Era 80-an
Era 80-an antusiasme melaksanakan KKN mulai meluntur. Terutama di kalangan perguruan tinggi Islam dan dosen serta mahasiswa yang berfikiran kritis dan memegang teguh akidahnya. Hal ini sebagai ekses buruk dari pelaksanaan KKN.
Pelaksanaan KKN bertujuan agar mahasiswa mampu :
1. Mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah kepada lingkungan masyarakat.
2. Pengujian teoritis (das sain) dengan kondisi yang terjadi di lapangan (das solen).
3. Mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan dari luar bangku kuliah.
Untuk menguji kebenaran setidak-tidaknya dapat dipakai 5 acuan, yaitu:
1. Norma agama, kebenaran mutlak terdapat dalam aturan agama. Misalnya dalam Al-Qur’an tegas dikatakan bahwa babi itu haram, ketika mahasiswa datang pada suatu tempat, disitu ada orang islam yang memelihara babi, meskipun orang itu sangat berpengaruh, kebenarannya tetap bahwa babi itu haram.
2. Norma social/norma masyarakat, yaitu segala sesuatu yang dianggap benar oleh masyarakat tersebut. Misalnya, pada suatu kaum kebiasaan mereka mengkafani mayat dengan kain hitam, maka apabila seorang mahasiswa yang selama ini terbiasa melihat kain kafan yang berwarna putih berada di tempat itu, dia dapat mengatakan bahwa kain kafan yang benar di tempat itu adalah berwarna hitam.
3. Norma adat, yaitu kebenaran mutlak yang berlaku di suatu daerah yang dilaksanakan secara turun temurun sehingga sudah merupakan adat bagi mereka. Misanya, meskipun dalam teori diketahui bahwa untuk menentukan seseorang bersalah attau tidak hanyalah melalui proses siding di pengadilan, namun pada suku Talang Mamak dengan cara “ Jepit Babi”, yakni seorang terdakwa harus menjepit babi sementara dengan jarak 10 meter di depannya seorang dubalang melemparkan tombak kea rah terdakwa. Apabila tombak mengenai babi, maka terdakwa tidak bersalah, namun bila terdakwah yang kena, itulah hukuman baginya. Maka apabila seorang mahasiswa berada di tempat itu, proses pengadilan yang benar adalah “Kepit Babi” tersebut.
4. Norma kualitas, yakni segala hal yang berhubungan dengan banyak atau sedikit. Apabila orang banyak atau menyetujuinya, itulah kebenaran itu.
5. Norma kualitas, adalah norma menurut pemahaman pribadi seseorang. Misalnya seorang mahasiswa yang KKN di suatu desa pinggiran sungai melihat umumnya warga desa itu menggunakan air sungai yang berwarna coklat untuk memasak, sementara menurut mahasiswa itu hal tersebut tidak sehat. Apabila mahasiswa melakukan hal serupa dengan kebiasaan masyarakat itu, kemudian ia sakit perut, maka dia benar. Namun bagi masyarakat yang sudah bertahun-tahun mengkonsumsi air tersebut tidak mrnimbulkan penyakit, maka masyarakat itu juga benar.

Pada prinsipnya tujuan KKN tersebut sudah teercapai, namun pada sisi lain muncul pula dampak negatif akibat pelaksanaan KKN yaitu :
1. Image jelek dari masyarakat terhadap mahasiswa atau perguruan tinggi akibat tindak tanduk peserta KKN di daerah tersebut tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di daereah itu.
2. Bentrok fisik antara peserta KKN dengan pemuda desa akibat hal-hal di luar konsep.
3. Korban jiwa akibat kecelakaan, prilaku criminal, maupun tindakan mistis lainnya.
4. Hubungan personal yang melampaui batas antara dosen pamong sesame dosen, dan/atau dengan mahasiswa, dan/atau sesame mahasiswa, maupun antara dosen dengan masyarakat dan/atau mahasiswa dengan masyarakat, yang akhirnya menimbulkan aib.

Inilah beberapa penyebab yang menjadi latar belakang beberapa perguruan tinggi dan mahasiswa tidak lagi memaksakan diri untuk melaksanakan KKN.
Meskipun demikian mata kuliah ini tetap disajikan, namun benar-benar menjadi mata kuliah pilihan yang mendapatkan perlakuan yang sama dengan mata kuliah lainnya.
Akhirnya, meskipun mata kuliah KKN disajikan namun peminatnya sangat sedikit. Hal ini juga disebabkan karena pada prinsipnya peserta KKN harus mengeluarkan sejumlah biaya. Selain itu apabila mengikuti KKN praktis tidak dapat mengambil mata kuliah lain, meskipun pelaksanaan KKN selama 3 bulan, tetapi tetep setara dengan satu smester. Sehingga sekembalinya dari KKN mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat mengikuti mata kuliah yang lain, kecuali libur panjang.



C. KKN Era 90-an
Dalam era 90-an di Indonesia tercatat sebagai perubahan dasawarsa besar-besaran. Puncaknya ketika tahun 1997 terjjadi gerakan reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa dan cerdik pandai. Agenda reformasi tersebut adalah merombak habis-habisan korupsi, kolusii dan nepotisme yang meraja lela sejak pemrintahan orde baru dibawah kepaemimpinan Soeharto.
Mungkin karena motor reformasi adalah mahasiswa yang sudah akrab dengan istilah KKN, maka agenda reformasi itupun diakronimkan dengan KKN.
Imbasnya terhadap mata kuliah KKN adalah sebagian perguruan tinggi alergi dengan sebutan KKN tersebut. Sehingga ada yang menghapus mata kuliahh tersebut.
Kewenangan perguruan tinggi (negeri maupun swasta) untuk mengatur dirinya sendiri, termasuk menetukan kurikulum, makin membuat mata kuliah KKN tersingkirkan.
Sedangkan sebagian perguruan tinggi lainnya beralasan tidak memasukkan KKN sebagai salah satu tawaran mata kuliahnya, karene kurang ada relevansinya dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Bahwa dalam persaingan bebas pada globalisasi dan perdagangan bebas yang dibutuhkan adalah kualitas. Sehingga perguruan tinggi tersebut lebih berorientasi kepada mempersiapkan mahasiswa sebagai sumber daya yang berkualitas, yang mampu menguasai informasi dan teknologi serta sehat jasmani dan rohani.
Karenanya muculah berbagai mata kuliah baru yang dianggap dapat menjawab tantangan globalisasi tersebut. Misalnya agribisnis, internet, multi media, dsb, meskipun tidak relevan dengan perguruan tinggi tersebut.

D. KKN pada STAI MN Rengat
Walaupun ada perguruan tinggi yang menghapus sama sekali materi kuliah KKN di kurikulumnya, dan ada pula yang hanya mengganti kulit (singkatan mata kuliah tidak KKN, Misalya Kukerta, tapi proses dan pelaksanaannya tetap seperti KKN), namun Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madinatun Najah (MN) Rengat tetap memakai nama KKN, namun proses dan pelaksanaan mata kuliah itu tidak seperti KKN pada yang selama ini dikenal umum.
Mata kuliah KKN pada STAI MN Rengat pertama kali ditawarkan kepada mahasiswa TA 2003/2004 dan masih berlanjut hingga saat sekarang ini.
Prinsip pelaksanaan KKN pada STAI MN Rengat adalah membuang hal-hal buruk pada system KKN era-era sebelumnya, dan meminimalisir kesalahan yang muncul atas system yang digunakan. Sehingg memunculkan formula baru tentang system pelaksanaan KKN.
Sistem baru tersebut adalah:
1. Mata kuliah KKN sama kedudukan, hak dan kewajibannya sama dengan mata kulih lain. Artinya mata kuliah KKN ditawarkan pada semester genap untuk mahasiswa S1 yang sudah berada pada semester 8 atau lebih bersamaan dengan mata kuliah lainnya, sehingga walaupun mahasiswa mengmbil mata kuliah KKN namun mahasiswa tersebut juga dapat mengikuti mata kuliah lainnya.
2. Mengacu kepada hal tersebut maka manajeman pada pelaksanaan proses belajar mengajar mata kuliah KKN terdiri dari teori di dalam ruangan kuliah di lapangan.
3. Mahasiswa dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang Participatory Rural Apraisal (PRA), merumuskan isu/masalah, manajemen daur proyek, membuat usulan kegiatan, menggalang sekutu,dsb, yang merupakan dasar bagi mahasiswa untuk merancang kegiatan yang dilaksanakan sebagai wujud KKN namun untuk meminimalisir sebagai kelemahan.
4. Kegiatan yang dilaksanakan adala perpaduan antara kebutuhan masyarakat, kesanggupan mahasiswa serta persetujuan dosen pembimbing/Ketua STAI MN.
5. Biaya yang ditimbulkan dalam KKN system ini sangatlah minim.
6. Mahasiswa tidak meniggalkan keluarga, pekerjaan, maupun mata kuliah yang lain dalam waktu yang lama.
7. Mahasiswa masih dapat melaksanakan berbagai tugas mandiri lainnya.


“Tuliskan latar belakang kenapa anda mengambil mata kuliah KKN ini”














2.
PENGATURAN DAN ADMINISTRASI

A. Pengaturan
Tidak ada satupun segala sesuatu yang berada di dunia ini yang tidak teratur. Sebab ketereturan muncul karena ada yang mengaturnya. Untuk itulah pengatur membuat peraturan, sehingga proses sesuatu itu berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anton M. Moeliono, 1988 ; 57) , atur artinya disusun baik-baik, rapi atau tertib. Maka pengaturan adalah proses, cara, atau perbuatan mengatur sesuatu, dapat juga dikatakan proses untuk menyusun sesuatu menjadi lebih baik, lebih rapi atau lebih tertib.
Jadi mengatur sesuatu pada prinsipnya merobah kondisi sesuatu itu dari keadaan semula menjadi lebih baik, rapid an lebih tertib.
Dalam istilah organisasi, pengaturan adalah manajemen. Sebab pengertian manajemen adalah menggerakkan semua sumberdaya yang tersedia pada sesuatu untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Menggerakkan pada hakikatnya adalah mengatur. Itulah sebabnya kenapa orang bertugas menggerakkan sumber daya sesuatu disebut manajer atau pengatur. Untuk menggerakkan sesuatu hal dalam sesuatu manajemen sudah tersedia instrumennya, itulah yang disebut dengan unsur-unsur dalam manajemen.
Menurut Prof. M. Dachnel Kamars (2004:24) para pakar mempunyai pendapat yang berbeda tentang jenis dan jumlah fungsi manajemen tersebut, yakni:
1. Henry Fayol: planning, organizing, commanding, coordinating, dan contolling.
2. Urwick: forecasting, planning, organizing, directing, actuating, dan controlling.
3. Terry: planning, organizing, actuating, dan controlling.
4. Gregg: decision – making, programming, stimulating, coordinating, influencing dan appraising.
5. The Liang Gie: planning, decision-making, directing, coordinating, controlling, dan improving.
6. Mondy & Premaux: planning, organizing, influencing, and controlling.
7. Dachnel Kamars: planning, budgeting, staffing, organizing, actuating, supervising, ontrolling, evalauating, and communicating.

B. Perencanaan (Planning)
Apapun kegiatan, pada prinsipnya dilakukan dengan awal ada rencana. Hanya saja tingkatannya yang berbeda. Untuk kegiatan yang bersekala besar, perencanaannya dilakukan secara nyata, sedangkan kegiatan berskala kecil, rutinitas, bahkan spontan, maka perencanaannya juga dilakukan secara mendadak. Meskipun rencana itu datang satu detik sebelum tindakan, tetap disebut rencana.
Gerakan reflex juga dilakukan dengan awal sebuah rencana. Misalnya ketika seseorang dikejutkan oleh suara petir, dengan reflex dia menutup telinganya. Namun ada pula yang segera merunduk, sedangkan yang lain istighfar. Meskipun semua tindakan tersebut berlangsung dalam hitungan detik setelah kejadian, namun tetap bergerak dari garis rencana. Seseorang yang menutup telinga tentu bertujuan agar volume suara petir itu berkurang, untuk itu alat penangkap bunyi itu diisolisasi. Bukankah hal itu merupakan tindakan dari sebuah rencana ?
Begitu pula dengan yang lainnya, seseorang yang merunduk tentu dengan tujuan agar tidak tersambar petir, tindakan itu adalah jawaban dari rencananya yaitu agar tidak tersambar petir. Muslim yang istighfar jauh lebih besar skala rencananya, antara lain terhindar dari malapetaka, memuji kebesaran Allah SWT, berlindung hanya kepada Allah, dan mungkin jika dia mendapat musibah berada dalam kondisi menyebut nama Allah sehingga diharapkan mendapat pahala. Tentu saja tindakan beristighfar itu merupakan perwujudan dari semua rencana tadi.
Dari contoh sederhana tadi dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah tindakan mau tidak mau pasti diawali dengan sebuah rencana. Sedangkan hal-hal yang menjadi unsure-unsur perencanaan adalah:
1. Adanya tujuan yang hendak dicapai.
2. Adanya fasilitas yang mendukung.
3. Adanya kemampuan melaksanakan.
Hal ini senada dengan pendapat Prof. Dachnel Kamars (2004:25), suatu hal yang harus dilakukan sebelum rencana disusun ialah:
1. Merumuskan tujuan-tujuan yang akan dicapai, ssesuai dengan tujuan organisasi.
2. Tenaga yang tersedia, ditinjau dari segi jumlah, mutu, dan jenis keahlian.
3. Dana yang tersedia.
4. Factor-faktor pendukung lainnya.
Dari contoh-contoh tindakan manusia ketika dikejutkan oleh gelagar petir tadi, juga dapat disimpulkan bahwa latar belakang seseorang melakukan tindakan dipengatuhi oleh pengalaman dan ilmu pengetahuannya. Seseorang yang menutup telinga ketika mendengar petir tentu dari pengalaman dan ilmu pengetahuannya diperoleh bahwa volume suara yang besar dapat merusak organ pendengaran. Sedangkan yang merunduk memilki pengalaman dan ilmu pengetahuan bahwasannya suara petir itu diikuti oleh sambaran listrik. Sedangkan seseorang yang beristighfar ketika mendengar suara petir dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan agamanya bahwa petir itu menunjukkan kekuasaan Allah SWT dan hanya Allah-lah tempat yang paling tepat untuk berlindung.
Artinya, dalam perencanaan sangat dibutuhkan berbagai pengalaman dan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kegiatan tersebut. Sebab menurut Kamars (2004:25) dari penilaian (evaluasi) terhadap kegiatan yang pernah dilakukan akan diperoleh data dan informasi yang berguna sebagai masukan dalam menyusun sebuah rencana.
Maka, bila hendak menyusun rencana kegiatan KKN perlu dihimpun berbagai pengalaman orang-orang yang pernah melaksanakan KKN. Hal yang perlu ditanyakan antara lain ; apa kegiatan, siapa yang terlibat, dimana dilakukan, mengapa dan bagaimana melakukannya.


“Tanyakan kepada mahasiswa alumni yang pernah melaksanakan KKN atau anda pernah mempunyai pegalaman tentang kegiatan KKN kemudian tuliskan pada lembaran ini”
1. Apa kegiatannya ?
2. Siapa-siapa yang terlibat ?
3. Dimana dilaksanakan ?
4. Mengapa kegiatan itu yng dipilih ?
5. Bagaimana proses pelaksanaannya ?

C. Klasifikasi Perencanaan
Terry dalam Kamars (2004:2006) menyebutkan ada beberapa jenis (type) perencanaan. Klasifikasi perencanaan ini sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, yaitu ;
1. Perencanaan tujuan, yaitu menyusun rencana untuk kegiatan-kegiatan masa depan. Dalam perencanaan jenis ini diperlukan perkiraan yang baik dan imajinasi secara terpadu untuk mencapai hasil yang diinginkan.
2. Perencanaan kebijakan. Perencanaan ini untuk membuat pedoman dan pengambilan keputusan dalam melaksanakan kegiatan fisik maupun mental. Boleh jug disebut dengan penyusunan peraturan dan tata tertib, AD/ART, UU, dsb.
3. Perencanaan prosedur, yaitu mengatur urutan tugas-tugas yang harus dilalui sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan dalam perencanaan kebijakan.
4. Perencanaan metode, yaitu menentukan metode/cara yang hemat, cepat dan tepat (efektif dan efesien) untuk melaksanakan suatu kegiatan.
5. Perencanaan standar, yaitu menentukan ukuran keberhasilan. Biasanya ukuran itu dalam bentuk kuantitatif (angka). Misalnya untuk kegiatan ceramah agama disebarkan undangan 50, bila yang hadir hanya 10 orang, maka kegiatan itu dikatakan kurang berhasil, dsb.
6. Perencanaan anggaran (budget), yaitu menentukan penggunaan anggaran (dana) dalam suatu kegiatan.
7. Perencanaan acara (program), perincian rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan sampai pada kegiatan tersebut selesai.
8. Perencanaan tekno-faktor, yaitu perencanaan yang bersifat teknik dan menyangkut factor yang terseleksi. Misalnya berkenaan dengan waktu yang tepat untuk melaksanakan sesuatu, serta bahan-bahan yang diperlukan. Biasanya perencanaan ini lebih banyak digunakan untuk kegiatan fisik, meskipun dalam skala kecil, seperti membuat makanan ringan (snack) untuk disajikan dalam suatu kegiatan.

D. Contoh Kegiatan KKN
Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) wilayah XII Riau dalam Buku Pedoman Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) (2001:67) merinci contoh-contoh kegiatan KKN yang dapat dilaksanakan oleh mahasiswa yang kuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam, sebagai berikut :
I. Bidang Agama Non Fisik :
a. Pengajian (anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, umum, kuliah subuh, kultum Khutbah Jum’at, Khutbah Hari Raya, peringatan Hari Besar Islam, dll).
b. Sarasehan (seminar, work shop, in house training).
c. Muamalah/bimbingan (pembentukan ta’mir mesjid, pembentukan organisasi remaja mesjid, pembentukan organisasi social kemasyarakatan, pembentukan organisasi wirid pengajian, dsb).
d. Tarbiyah (mengajar membaca Al-Qur’an, didikan subuh,dsb).
e. Perbaikan administrasi rumah ibadah (pengadaan sarana ibadah, pengadaan pustaka rumah ibadah, pembenaran rumah ibadah, dll).

II. Bidang Sarana Fisik :
a. Pembangunan rumah ibadah (pembangunan mesjid atau musholla, rehab mesjid atau musholla, perluasan areal, pengecatan, pembangunan tempat wudhu’/parker/pagar/sumur/gapura, dll).
b. Jalan/jembatan (perintisan, pembuatan, pengerasan, membuat/memperbaiki selokan, irigasi, plang nama yang disertai tulisan Arab Melayu, dll).
c. Kebersihan (pengadaan tempat sampah, MCK , dll).
d. Keamanan (pendirian pos ronda/gardu, dll).
e. Olahraga (pembangunan/rehab lapangan, pengadaan alat-alat olahraga).
f. Kesenian (pengadaan sarana qasidah, busana muslim, dll).

III. Bidang Administrasi :
a. Perbaikan administrasi pemerintahan Desa (pembuatan tabel/statistik/grafik, peta wilayah, pembukuan, data, dll).
b. PKK (Sulaman, industry kecil, teknologi tepat guna, menjahit, dsb).

IV. Bidang Pendidikan Sosial/Budaya dan Kesehatan :
a. Pembinaan sekolah (kebun sekolah, kesehatan sekolah, koperasi, dll).
b. Kursus keterampilan (karang taruna, Pramuka, seni baca Al-Qur’an, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dll).
c. Pembinaan dan pengembangan budaya setempat.
d. Penyuluhan (UU, Perkawinan, akte kelahiran, kesadaran hokum, gizi, pertanian, jamban keluarga, kesehatan, dll).
e. Kader/pendidikan dakwah.
f. MTQ.
g. Radio Desa.



“ Tentukan Satu Kegiatan yang anda usulkan untuk KKN:
Apa tujuan (perencanaan tujuan) kegiatan tsb ?
Buat perencanaan prosedurnya.
Buat perencanaan anggarannya.


























E. Administrasi KKN
Sama halnya dengan perencanaan, administrasi dalam suatu kegiatan senantiasa harus ada, meskipun kegiatan itu berskala kecil. Misalnya pada orang yang terkejut akibat suara petir pada contoh terdahulu. Ketika orang terkejut kemudian menutup telinga, pada prinsipnya sudah melaksanakan administrasi, yaitu ketika otak secara cepat memerintahkan telapak tangan menutup telinga. Perintah otak itu dapat dikatakan order atau nota, dan itu adalah administrasi.
Lebih nyata lagi tindakan yang dilakukan orang yang terkejut akibat suara petir kemudian merunduk pada suatu tempat. Upaya dia merunduk dapat dikatakan berlindung pada suatu benda. Apabila seseorang menempati suatu benda/ruang maka ia harus meminta izin kepada pemilik benda atau ruang itu. Bisa saja izin tersebut diminta sebelum menempati ruangan itu atau sesudahnya. Mungkin juga pemilik benda atau ruang itu secara nyata memberikan atau menolak izin atau tidak nyata karena dianggap hal yang sederhana. Jika orang itu merunduk di bawah emperan toko dia tidak perlu meminta izin dulu, karena pemilik toko sangat paham orang itu berlindung di emperannya akibat takut dengan petir. Namun pada proses itu pada prinsipnya sudah berlangsung administrasi.
Jika demikian, administrasi dapat disingkat sebagai tindakan utnuk memformalkan suatu kegiatan akibat terlibatnya berbagai unsur.
Hal-hal yang diharapkan dari administrasi antara lain:
1. Tindakan/kegiatan yang akan/dilakukan lancar dan mencapai tujuan.
2. Tindakan/kegiatan yang akan/dilakukan diketahui dan disetujui pihak lain.
3. Tindakan/kegiatan yang akan/dilakukan didukung pihak lain.
4. Ada dokumentasi dari tindakan /kegiatan yang dilakukan.
5. Salah satu alat bantu untuk mengevaluasi tindakan/kegiatan yang dilakukan.
Dari contoh sederhana dalam pelaksanaan administrasi pada orang yang terkejut akibat petir tadi, dapat pula dimabil kesimpulan tentang bentuk fisik administrasi tersebut, yaitu:
1. Berbentuk abstrak, yaitu proses administrasi dilakukan namun tidak ada bukti fisiknya. Misalnya ketika membeli sekilo cabe, umumnya tidak ada kwitansi, namun tindakan itu sah.
2. Bebentuk nyata, yaitu proses administrasi tertera jelas dalam bukti fisik, misalnya ada akte, kwitansi, nota, surat-menyurat dsb.
Menurut Kartasapoetra et all (ny: 4) administrasi merupakan proses-proses penyelenggaraan oleh sekelompok manusia yang dilakukan secara teratur berdasarkan norma-norma usaha dalam ikatan suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan kesepakatan mereka, dimulai dari penentuan tujuan itu sampai pada akhir tercapainya tujuan tersebut.
Sedangkan Sondang Siagian dalam Kartasapoetra et all (ny: 4) mengatakan, administrasi adalah suatu keseluruhan proses kegiatan pelaksanaan usaha bersama yang terdiri atas dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan administrasi satu proses yang kontinyu.
Herbert A. Simon, juga dalam Kartasapoetra et all (ny: 6) menyatakan bahwa dalam pengertian luas, administrasi KKN dapat dirumuskan sebagai kegiatan-kegiatan dari sekelompok orang yang secara bekerja sama mengusahakan tercapainya tujuan bersama.
Dari pengertian tersebut diketahui bahwa tata usaha merupakan bagian dari administrasi. Namun dapat dikatakan sebagai administrasi dalam arti sempit.
Tata usaha adalah kegiatan yang bersifat mencatat sesuatu yang terjadi dalam suatu usaha atau organisasi untuk menjadi bahan keterangan.
Khusus berkenaan KKN tahapan admnistrasinya adalah sbb:
1. Pembuatan proposal kegiatan.
2. Permohonan pelaksanaan KKN pada Kepala Desa/Lurah yang ditembuskan kepada Camat, Bupati/Walikota, Dekan/Ketua Sekolah Tinggi.
3. Undangan pembukaan KKN.
4. Undangan menghadiri kegiatan KKN.
5. Undangan untuk nara sumber/pihak-pihak yang dilibatkan dalam pelaksanaan materi kegiatan KKN.
6. Undangan penutupan KKN.
7. Laporan pelaksanaan KKN.

Untuk lebih jelasnya masing-masing tahapan tersebut akan dibahas dalam bab-bab tersendiri. Sedangkan contoh surat-surat permohonan maupun undangan terdapat pada lampiran.














3.
Penetapan Lokasi
Kuliah Kerja Nyata
(KKN)
Rancangan Lokasi KKN
Penetapan lokasi tempat bakal diselenggarakannya KKN merupakan pintu gerbang menuju pelaksanaan KKN. Lokasi yang dimaksud adalah semua wilayah/tempat yang dapat, sesuai, dan mendukung sebagai tempat mengimplemen-tasikan semua rancangan kegiatan KKN.
Pada prinsipnya calon lokasi tempat berlangsungnya KKN adalah:
Berdasarkan Wilayah
Yaitu pemilihan tempat pelaksanaan KKN mengacu pada kawasan tertentu. Maka yang akan dipilih adalah wilayah tempat akan dilaksanakannya KKN, misalnya Desa Tambak, atau Kelurahan Belilas, atau RW II Kelurahan Kampung Dagang, atau RT V Kel. P. Reba, Dasa Wisma, dsb.
Berdasarkan Tempat
Yaitu mengacu pada bangunan/lahan/lapangan/tempat diselenggarakannya KKN, misalnya KKN akan dilaksanakan di SD Teluk Sungkai, atau Surau Bayas Jaya, atau Pos Ronda RT II Kel. Peraanap, atau keramba di Desa Pulau Jum’at, dsb.
Berdasarkan Insitusi
Yaitu pemilihan tempat pelaksanaan KKN mengacu kepada lembaga/institusi yang menjadi objek pelaksanaan KKN. Misalnya KKN akan dilaksanakan untuk mendampingi para penjual goreng pisang Pasar Rengat, pembenahan administrasi Kantor Kepala Desa Talang Gedabu, peningkatan Perpustakaan Masjid Al-Khairat, dsb.

Untuk menentukan apakah pemilihan lokasi KKN berdasarkan wilayah, tempat, dan institusi sangat tergantung kepada bidang, sifat dan skala proyek yang akan dilaksanakan.
Bidang dan macam kegiatan KKN (KOPERTAIS Wil. XII Riau, 2001:67) antara lain:
Agama dan Non Fisik, macam kegiatannya;
Pengajian anak.
Pengajian remaja.
Pengajian ibu-ibu.
Pengajian bapak-bapak.
Pengajian umum.
Kuliah umum.
Kuliah subuh.
Pembentukan Ta’mir masjid.
Perbaikan administrasi masjid.
Pembentukan organisasi remaja masjid.
Mengisi khutbah Jum’at.
Mengajar membaca Al-Qur’an.
Mengajar/praktek sholat.
Sarasehan.
Mengadakan peringatan Hari Besar Islam.
Pengadaan tikar sholat.
Pembentukan pengurus DMI.
Pengadaan Al-Qur’an dan buku-buku agama.
Kursus penyelenggaraan jenazah.
Pengurusan akte tanah wakaf.
Membuat garis shaf sholat.
Sarana Fisik.
Pembangunan masjid/musholla baru.
Rehab masjid/musholla.
Perluasan masjid/musholla.
Pengecatan/pengapuran masjid/musholla.
Membangun tempat wudhu’.
Rehab tempat wudhu’.
Pembuatan sumur.
Pembuatan pagar.
Pembuatan jalan/jembatan.
Pembuatan plang nama jalan.
Penambahan plang nama jalan dengan tulisan Arab-Melayu.
Pengadaan/pembuatan sarana kebersihan.
Sarana olahraga dan kesenian.
Administrasi Pemerintahan.
Perbaikan administrasi pemerintahan desa, PKK, Karang Taruna, Koperasi, dsb institusi masyarakat.
Pendidikan Sosial/Budaya/Kesehatan.
Pembinaan institusi masyarakat.
Penyelenggaraan kursus.
Pemeliharaan dan pengembangan budaya/kesenian.
Penyuluhan.
Dsb.
Sifat proyek KKN adalah sifat dari kegiatan yang hendak dilakukan. Biasanya hanya terdiri:
Pembangunan/pelaksanaan baru, yakni proyek tersebut benar-benar dibuat/dilaksanakan mulai dari awal. Misalnya pembangunan kios pupuk milik Desa yang sebelumnya tidak ada (mungkin ide itupun belum terpikirkan oleh masyarakat setempat). Pellatihan menjahit yang belum ada dilaksanakan di desa tersebut, dsb.
Rehab/perbaikan, yaitu kegiatan yang dilaksanakan merupakan memperbaiki bangunan/kegiatan yang sudah ada, namun kurang berfungsi karena rusak. Misalnya di desa tersebut sudah ada kios pupuk, namun tidak dipakai karrena atapnya bocor, maka mahasiswa KKN mengganti atap, mencat, membersihkan, dan melengkapi serta memperbaiki bagian-bagian yang rusak. Atau di desa ini sudah ada pengurus masjid, namun tidak aktif, untuk itu dilakukan kegiatan pelatihan untuk pengurus masjid tersebut sehungga menjadi aktif.
Upaya peningkatan mutu (up grade), yaitu memfungsikan atau merubah fungsi suatu bangunan atau perangkat sehingga lebih berdaya guna. Misalnya kios pupuk yang berada di desa tersebut dirubah fungsi menjadi pos ronda, tentu saja dengan merubah/menambah beberapa bagian sehingga kios lama itu menjadi benar-benar seperti pos ronda. Bisa juga ditujukan untuk up grade kelembagaan, misalnya pengurus koperasi yang koperasinya tutup dilatih menjadi pengurus masjid, dsb.
Melanjutkan, yaitu kegiatan fisik atau non fisik untuk melanjutkan hal-hal yang belum tuntas. Misalnya melanjutkan pembangunan musholla, melanjutkan pelatih muhadoroh, dsb.
Mengacu kepada sifat proyek serta bidang dan macam kegiatan, tentukan lokasi KKN yang anda usulkan.
Sifat proyek .............................................................................................................................
Kegiatan proyek ....................................................................................................................
Lokasi ......................................................................................................................................

Survey Desa
Survey desa adalah upaya mengumpulkan dan mendokumentasikan informasi penting berkenaan desa/wilayah/suatu objek tersebut.
Informasi penting tentang suatu wilayah atau sesuatu objek itu diperoleh dari data atau informasi skunder wilayah/sesuatu itu. Informasi skunderr merupakan informasi yang sudah terrsedia atau terdapat pada wilayah atau objek tersebut.
Informasi/data itu dapat dikumpulkan dari data statistik yang terdapat di kantor kepala desa/pemerintah, keterangan dari masyarakat setempat, dokumen, literatur, hasil kajian, maupun pengamatan langsung.
Manfaat dari survey desa/sesuatu adalah (Rianingsih Djohani, 1996:47):
Mendapatkan gambaran awal keadaan desa/wilayah, baik masyarakat maupun lingkungannya.
Memperkirakan kebutuhan informasi yang perlu dikaji lebih lanjut di lapangan sehingga dapat disusun rencana kajian lapangan.
Sebagai data pembanding terhadap informasi yang diperoleh langsung dari masyarakat.

Data/informasi yang dibutuhkan dari suatu kawasan/objek adalah, antara lain:
Sejarah desa/suatu objek.
Kecendrungan dan perubahan.
Kalender musim.
Peta desa.
Potensi desa.
Penelusuran desa (Transek).
Lembaga-lembaga desa.
Bagan alur.
Mata pencaharian.
Kependudukan.

Teknik Penelusuran Sejarah Desa
Setiap kelompok masyarakat senantiasa memiliki sejarahnya sendiri-sendiri yang menjadikannya berbeda dengan mayarakat yang lain. Sejarah tersebut merupakan bagian kebanggaan masyarakat setempat.
Kebanyakan sejarah tersebut tidak tertulis, tetapi merupakan sejarah lisan yang hidup di kalangan masyarakat, dalam ingatan warga yang mengalaminya yang diteruskan dari generasi ke generasi melaui cerita-cerita.
Penelusuran sejarah desa adalah suatu teknik untuk mengungkapkan kembali sejarah masyarakat pada suatu lokasi berdasarkan penuturan masyarakat itu sendiri.
Peristiw-peristiwa dalam sejarah desa tersebut disusun secara berurutan menurut waktu kejadiannya (secara kronologis), dimulai dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu selampau mungkin yang masih diingat, sampai dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Jenis inforrmasi yang dikumpulkan antara lain:
Sejarah terbentuknya pemukiman/desa tersebut.
Asal-usul penduduk yang meriintis pemukiman itu.
Perkembangan jumlah penduduk.
Keberadaan dan pengelolaan sumber daya alam.
Perubahan-perubahan dalam status kepemilikan, penguasaan, dan pemanfaatan lahan.
Pengenalan dan penanaman suatu tanaman/ikan/hewan.
Penerapan suatu teknologi.
Terrjadinyawabah penyakit.
Terjadinya bencana alam.
Masuknya berbagai program atau kegiatan.
Masalah besar yang dihadapi.
Pembangunan sarana dan prasarana penunjang.
Munculnya organisasi desa.
Manfaat kajian sejarah desa antara lain:
Menfasilitasi masyarakat agar pahham tentang keadaan mereka sekarang ini dibandingkan pada masa lalu.
Menfasilitasi masyarakat untuk mengingat cara mengahadapi maslah pada masa lalu.
Menfasilitasi masyarakat mengkaji hubungan sebab akibat antara berbagai kajian.
Memperkuat kesadaran masyarakat akan desanya.
Memberikan wawasan dan pemahaman tentang keadaan masyarakat desa tersebut.
Sebagai bahan pertimbangan untuk menyelenggarakan suatu kegiatan.

“Buatlah penelusuran sejarah desa lokasi KKN yang telah anda tetapkan sebagai tempat pelaksanaan KKN pada matrik berikut ini”










Matrik Penelusuran Sejarah
Nama Desa : ..................................
Kec/Kab/Prop : ..................................
Jarak dari Ibu Kota Kec/Ibu Kota Kab : ..................................
Tahun Kejadian Ket





































Teknik Kecendrungan dan Perubahan
Kecendrungan dan perubahan adalah upaya untuk menggambarkan berbagai perubahan-perubahan berbagai keadaan, kejadian, serta kegiatan masyarakat darri waktu ke waktu.
Bagan kecendrungan dan perubahan akan memperlihatkan komponen yang dikaji berkurang, bertambah, atau tetap. Sehingga dengan demikian dapat diramalkan keadaan komponen tersebut pada masa mendatang.
Perubahan pada suatu objek (desa/benda/lembaga) pasti terjadi. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satu pun alam ini yang tidak akan berubah, kecuali perubahan itu sendiri.
Komponen kajian perubahan umunya adalah:
Sumber daya alam, misalnya; luas lahan/sungai/danau, luas hutan/belukar/rawa, tingkat kesuburan tanah, jumlah ikan di sungai/danau, dsb.
Pendapatan penduduk, misalnya; jumlah sawah/kolam/keramba, jumlah ternak, pedagang, pegawai, dsb.
Perkembangan penanaman pohon, misalnya; sawit, durian, kebun karet, dsb.
Hama penyakit yang ekstrim, misalnya; wereng, babi, kera, campak, nyamuk, dsb.
Fenomena alam, misalnya; kemarau, debit air, curah hujan, banjir, gempa, dsb.
Pada prinsipnya kecendrungan dan perubahan adalah penelaahan lanjutan dari penelusuran sejarah desa. Untuk pembuatan bagan kecendruungan dan perubahan dapat bersamaan saat pembuatan bagan Penelusuran Sejarah Desa. Hanya dengan menambahkan pertanyaan bagaimana keadaan komponen tersebut pada periodesasi yang sedang disebutkan nara sumber. Misalnya sekitar tahun 1930 ikan di sungai banyak, 1940 banyak terdampar mayat-mayat pejuang yang ditembak Belanda kemudian dibuang ke sungai. Pada sat nara sumber menceritakan kejadian tahun 1949 itu, tanyakan mana lebih banyak ikan di sungai tahun 1930. Begitu seterusnya hingga masa sekarang ini.
Komponen objek kajian perubahan dibuat dengan lambang. Bentuk lambang dapat ditentukan sendiri, misalnya tingkat pendapatan dengan koin (bulatan), sapi dengan kepala bertanduk, durian dengan bulat berduri, curah hujan dengan awan meneteskan air, dst.
Contoh :
Tahun Petani Pendapatan Ikan Dsb ...
1930 – 1939
$ $ $ $ $ $
$ $ $ $ $ $ ⋉⋉⋉⋉⋉⋉⋉⋉⋉
1940 - 1949
$ $ $ $ $ $ $ ⋉⋉⋉⋉⋉⋉⋉⋉
Informasi yang dapat diketahui dari bagan tersebut adalah:
Jumlah petani tahun 1940 berkurang drastis dari tahun 1930.
Pendapatan penduduk berkurang.
Jumlah ikan di sungai tetap.
“Buatlah bagan kecendrungan dan perubahan desa yang sudah anda telusuri tadi. Dengan menggunakan blangko yang sudah disiapkan”




















Bagan Kecendruungan dan Perubahan
Desa ...............................
Kec. ............... Kab. .................... Prop. ..........................

Tahun Petani Pendapatan (SDA) (Fenomena Alam) (Tanaman) (Ternak)





































Menyusun Kalender Musim
Kalender musim adalah upaya untuk mengungkap kejadian maupun kegiatan yang dihadapi/dilakukan objek (masyarakat/bangunan/lembaga) secara berulang-ulang (rutin).
Manfaat penyusunan Kalender Musim ini adalah:
Mengetahui waktu yang tepat untuk pelaksanaan suatu program.
Mengetahui kebiasaan/adat istiadat masyarakat.
Informasi tentang objek tersebut.
Objek yang dijadikan sajian penyusunan Kalender Musim antara lain:
Kegiatan rutin berkenaan fenomena alam, misalnya; musim hujan, banjir, kemarau, kabut asap, dsb.
Kegiatann rutin tradisi/budaya, misalnya silat, pacu jalur, papaghian, pernikahann, dsb.
Kegiatan rutin agama, misalnya; Khitanan, Khatam Qur’an, puasa, dsb.
Kegitan rutin sosial, misalnya; HUT RI, lomba memancing, masa ujian anak sekolah, penerimaan murid baru, pemeriksaan kepada institusi, dsb.
Kegiatan rutin pekerjaan, misalnya; musim ke sawah/ladang, berburu, menangkap patin/botia, dsb.
Kegiatan rutin SDA, misalnya; musim durian, rambai, rambutan, dsb.
Hal rutin hama/penyakit, misalnya; musim nyamuk kepala putih, babi, campak, batuk, dsb.
Teknik pembuatan Kalender Musim ini hampir sama dengan Bagan Kecendrungan dan Perubahan, sehingga dapat dikejakan bersamaan dengan membuat Bagan Kecendrungan dan Perubahan serta Penelusuran Sejarah.

“Buatlah Kalender Musim Desa Pilihan KKN Anda”






Bagan Kalender Musim
Desa/Objek ......................................
Kec. ........................ Kab. ............................... Prop. .............................

Bln
Topik Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des


































Kajian Mata Pencaharian/Ciri-Ciri Sesuatu Objek
kajian mata pencaharian atau ciri-ciri sesuatu objek adalah upaya untuk mengungkapkan suatu objek yang berkaitan dengan nilai ekonomi.
Manfaat kajian atau ciri-ciri sesuatu objek itu antara lain:
Untuk mengetahui trend mata pencaharian masyarakat.
Dapat diketahui jenis pekerjaan yang cenderung dilakoni masyarakat.
Diperoleh informasi jumlah orang yang melakukan setiap jenis pekerjaan.
Diketahui kondisi real mata pencaharian atau objek tersebut.
Masalah perekonomian mata pencaharaian atau objek tersebut.
Ketersediaan dan keadaan bahan baku/alat dan bahan penunjang.
Tingkat pendapatan.
Informasi yang dikumpulkan untuk membuat kajian mata pencaharian/ciri-ciri objek antara lain:
Jenis kegiatan atau usaha.
Jumlah masyarakat yang bekerja di sektor ini. Jumlah tersebut sebaiknya diuraikan lagi menjadi pekerja wanita dan pekerja laki-laki.
Kondisi pemasaran.
Keadaan bahan baku/hasil yang diperoleh.
Masalah yang dihadapi.

“Buatlah Kajian Mata Pencaharian Objek Lokasi KKN yang Anda Pilih Pada Halaman Be”ikut"








Bagan Kajian Mata Pencaharian
Desa .................................
Kec. ...................... Kab. .............................. Prop. ..............................

Jenis Usaha Pekerja
L Pekerja
W Pemasaran Bahan Baku Masalah




































Kajian tentang potensi desa, kependudukan, maupun alur peringkat kebutuhan desa pada prinsipnya suudah terdapat pada bagan-bagan lainnya. Namun apabila menghendaki informasi tersebut lebih mengemuka, maka bagannya dapat dibuat tersendiri.


Dukungan Masyarakat/Aparat
Image yang salah tentang program KKN yang segera dihentikan adalah anggapan program KKN tersebut sepenuhnya milik mahasiswa peserta KKN. Sehingga masyarakat tempat KKN tersebut diselenggarakan tidak terlibat sama sekali.
Kondisi ini lari jauh dari tujuan dan manfaat KKN diselenggarakan. Bahwa salah satu tujuan dan manfaat KKN itu adalah mengimplementasikan rancangan program yang dibuat mahasiswa peserta KKN.
Tampak jelas pada pengertian tersebut adalah mahasiswa peserta KKN sudah membuat perencanaan (planning), sedangkan pekerjaan perencanaan adalah porsi manajer. Maka pelaksana atau pekerja rancangan bukanlah manajer, tetapi tenaga kerja.. dalam hal KKN, tenaga kerja adalah masyarakat tempatan.
Selain itu, program KKN juga sebagai persiapan mahasiswa untuk terjun ketengah-tengah kanca kehidupan masyarakat. Ketika mereka berada di masyarakat statusnya adalah sarjana. Meski posisi sarjana adalah cendikia yang disebut manajer.
Untuk itu tidak ada cara lain, bahwa pelaksanaan program KKN harus melibatkan semua unsur pelapisan sosial masyarakat tempatan terkait.
Maka tugas utama mahasiswa peserta KKN dalam mencari lokasi bakal dilaksanakannya program KKN tersebut adalah mendapatkan komitmen dari masyarakat atau pihak-pihak berkompeten di calon lokasi KKN tersebut.
Bentuk dukungan yang diharapkan adalah:
Bersedia menerima program KKN tersebut.
Mengamankan pelaksanaan program KKN sehingga berjalan sesuai dengan jadwal, karena hasil program akan dinikmati masyarakat setempat.
Bersedia ikut serta aktif melaksanakan program tersebut dengan prinsip proyek KKN itu milik masyarakat setempat.
Bersedia menjadi tenaga kerja sukarela (gootong-royong) dalam pelaksanaan proyek.
Menyadari bahwa mahasiswa peserta KKN hanyalah inovvator, stimulator, dan fasilisator terhadap program tersebut. Sedangkan motor pelaksana adalah masyarakat setempat.
Memelihara hasil proyek untuk kepentingan bersama masyarakat tempatan.
Komitmen yang dibangun dengan masyarakat setempat dapat berupa:
Komitmen langsung, yaitu berupa pernyataan langsung secara akbar yang dikemukakan oleh masyarakat. Hal ini bisa didapatkan melalui pertemuan resmi masyarakat setempat. Misalnya; menjelang pelaksanaan Sholat Jum’at, pada rapat desa, pertemuan khusus, dsb.
Komitmen tidak langsung, yaitu pernyataan mendukung yang disampaikan masyarakat. Bentuk komitmen ini, antara lain:
Melalui bentuk tertulis yaitu masyarakat menyatakan dukungannya melalui surat edaran yang ditandatanganinya.
Melalui perwakilan, yaitu pernyataan tertulis yang ditanda tangani oleh wakil-wakil masyarakat.
Melalui keputusan/surat resmi yang dikeluarkan oleh tokoh masyarakat setempat, misalnya surat dari kepala desa, tokoh sentral masyarakat, dsb.
Komitmen dukungan tersebut sangat berguna sekali bagi pelaksanaan program KKN, sehingga harus dimiliki sebelum KKN dijalankan pada suatu kawasan/tempat.


“Ajukanlah surat dukungan dari masyarakat KKN yang anda pilih pada halaman berikut ini kepala tokoh utama yang bertanggung jawab terhadap objek KKN di tempat itu (Kades/Pimpinan Lokasi KKN)”.







SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
MADINATUN NAJAH RENGAT
PROGRAM KULIAH KERJA NYATA (KKN)
T.A …./….. Angkatan ….

Nomor : .../KKN-STAI MN/(bln)/… Rengat, ............. 20 ...
Lampiran : --- Kepada Yth,
Hal : Dukungan Pelaksanaan .........................
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Di-
Tempat
Assalamualaikum Wr. Wb
Sesuai dengan Kalender Pendidikan dan Surat Keputusan Ketua STAI Madinatun Najah Rengat Nomor : ………………………tentang ………………………….. yang menetapkan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), maka kami bermaksud memilih Desa/ ..................... ini sebagai lokasi KKN Angkatan …...
KKN tersebut diikuti oleh mahsiswa STAI Madinatun Najah Rengat smester akhir sebanyak ..... orang, dengan kegiatan proyek yang diharapkan masyarakat.
Untuk itu kami mohon kesediaan Bapak/Ibu menerima peserta KKN STAI MN Rengat ini serta mendukung pelaksanaannya dengan memberikan fasilitas dibutuhkan.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan atas kerja sama yang baik diucapkan terimakasih.
Dosen Pembimbing, Mahasiswa Peserta KKN


Ir. Hendri A. Saleh, MA
Menyetujui
Kepala Desa / Lurah ......Kec.... Kab/Kota...

...........................


















4.
Merumuskan Isu/Masalah
Secara
Partisipatif

Isu disebut juga dengan masalah. Hanya ada perbedaan sedikit konotasi dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dimaknai orang sebagai suatu berita atau kabar yang tidak pasti. Sedangkan masalah dimaknai sebagai situasi atau kondisi yang dapat mengganggu akifitas kehidupan sehari-hari, sehingga diperlukan jawaban.
Dalam Bab ini akan dibahas isu atau masalah dalam pengertian luas. Artinya semua hal yang menjadi topik pembicaraan atau kebutuhan adalah isu/masalah.

A. Merumuskan Isu/Masalah
Sebenarnya istilah isu/masalah tidak hanya ditujukan pada kabar, situasi dan kondisi yang buruk, sesuatu yang baik yang hangat dibicarakan juga disebut dengan kabar atau masalah. Misalnya ceramah agama. Ada pula yang bertanya, masalah apa ? jawabnya tentu juga tentang ceramah agama.
Konflik atau masalah menurut Prof. Anton M. Moelyono (1988:528) adalah merupakan sesuatu pertentangan yang terjadi antara dua pihak yang diselesaikan/dipecahkan.
Begitu juga dengan Maulana (2004:293) menyatakan sebagai problem pertentangan paham yang memunculkan pertikaian, persengeketaan, dan atau perselisihan. Sedangkan dalam Webster’s Dictionary (1975 : 229) masalah diartikan sebagai sekumpulan keadaan yang memerlukan suatu jawaban atau solusi.
Sementara Simon Fisher dkk (2001 : 4) mendefenisikan konflik sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa masalah itu memiliki unsur-unsur antara lain, keadaan/kondisi, ada dua pihak, terjadi perbedaan pemahaman serta membutuhkan jawaban atau solusi.
Perbedaan pemahaman yang terjadi pada dua pihak atau lebih yang berhubungan disebabkan oleh sesuatu hal, antara lain perbedaan sudut pandang. Perbedaan sudut pandang itu muncul akibat perbedaan berbagai dimensi, status, kekuasaan, kekayaan, usia, peran menurut jender, keanggotaan dalam suatu kelompok sosial tertentu dan sebagainya.
Dalam situasi yang sama, indikator-indikator posisi itu dalam masyarakat sering menetukan keinginan kelompok yang berbeda. Maka ketika kepentingan mereka bertentangan atau tidak berkesesuaian, maka terjadilah konflik.
Misalnya seorang guru menerapkan peraturan agar siswa masuk kelas untuk belajar 5 menit sebelum guru masuk, dan akhirnya space waktu belajar benar-benar dimanfaatkan secara efesien. Dilain pihak, bagi siswa waktu 5 menit itu dapat dimanfaatkan untuk jajan sebagai penambah energinya yang terkuras saat belajar pada mata pelajaran sebelumnya, sebab dengan energi yang baik dan otak yang segar akan lebih efektif menerima pelajaran dari guru tadi, sehingga mereka tidak setuju dengan peraturan itu. Konflik akan muncul mana kala ada siswa yang masuk bersamaan dengan guru itu dan justru selangkah dibelakangnya karena baru kembali dari jajan.
Konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindar dan sering bersifat kreatif. Konflik akan terjadi apabila tujuan tidak sejalan. Berbagai perbedaan dan pendapat bila diselesaikan tanpa kekerasan, akan menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebahagian besar atau semua pihak yang terkait.
Karena itu konflik tetap berguna, karena memang bagian dari keberadaan manusia. Mulai dari tingkat mikro,, antar pribadi hingga sampai tingkat kelompok,, organisasi, masyarakat, negara. Sebab semua bentuk hubungan manusia – sosial, ekonomi dan kekuasaan – mengalami pertumbuhan, dan konflik. Sebab muncul dari ketidak seimbangan hubungan-hubungan tersebut.
Dalam menangani konflik hal pertama perlu dilakukan adalah mengintensifkan konflik tersebut. Yaitu upaya mengungkap konflik laten kepermukaan dan menjadikannya terbuka, untuk mencapai satu tujuan.
Hal yang perlu dilakukan dalam merumuskan masalah adalah berupaya mengantisipasi agar masalah itu tidak berkembang menjadi konflik yang mengacu kepada kekerasan. Pertentangan/perrbedaan penadapat dalam merumuskan masalah justru berguna untuk menemukan komitmen serta semakin sempurnanya perencanaan. Namun konflik dengan kekerasan justru menyebabkan program yang direncanakan akan menemui kegagalan.

B. Bedakan Kebutuhan dengan Keinginan
Dalam proses merumuskan masalah kita akan bergelimang dengan berbagai persoalan. Semakin besar skala objek yang ditelaah masalahnya, maka akan semakin kompleks pula masalah yang muncul. Hal apa saja yang menyangkut dengan masalah ? secara global masalah akan berkaita dengan GHAT, yaitu:
1. G = Gangguan, semua hal yang mengganggu proses kehidupan seseorang /sekelompok orang sesuatu adalah masalah. Pengertian gangguan adalah segala faktor yang menyebabkan berlangsungnya sesuatu tidak dapat dilakukan secara normal. Misalnya seorang nelayan hendak menjala, tahu-tahu jalanya robek sehingga dia harus memperbaiki jala itu. Akibatnya nelayan tersebut tertunda untuk melaksanakan aktifitas. Kondisi yang dialami nelayan tersebut dikatakan terganggu.
2. H = Hambatan, yaitu segala sesuatu yang menyebabkan pelaksanaan suatu kegiatan tidak dapat berlangsung sesuai jadwalnya. Misalnya pak nelayan tadi sudah merencanakan turun ke sungai pukul 06:00, namun karena harus memperbaiki jala yang rusak maka tertunda hingga pukul 08:00. Di perjalanan dia terpaksa berhenti sejenak karena tongkang membawa bubur sawit lewat, dalam hal ini nelayan tersebut dikatakan mendapatkan hambatan.
3. A = Ancaman, yaitu segala hal yang memberikan pengaruh buruk dari luar terhadap suatu aktifitas. Apabila pengaruh tersebut dominan, dapat mengakibatkan aktifitas itu terhenti. Misalnya akibat nelayan tadi terlambat memulai mendayung sampan maka dia kuatir selokan yang bakal dilalui menuju lopak tempat menjala ikan akan kering akibat air sungai sudah surut, sehingga dia tidak bisa masuk. Kondisi kekuatiran nelayan tidak bisa melalui selokan itu disebut dengan ancaman. Hal ini adalah masalah.
4. T = Tantangan, yaitu segala sesuatu faktor yang mampu mepengaruhi proses kehidupan seseorang/suatu akibat dinamisnya (hidup, berkembang, maju dan berubah-ubah) seseorang/sesuatu. Misalnya, nelayan kita tadi harus bekerja keras mendapatkan ikan lebih karena anaknya harus membayar uang kuliah bulan ini. Dulu sebelum anaknya masih di SD, jangankan jala rusak, gerimis sedikit saja dia tidak akan ke lopak, sebab kebutuhan untuk makan keluarganya dalam sepekan sudah ada. Kondisi nelayan itu harus bekerja keras untuk dapat mengumpulkan uang pembayar kuliah anaknya dikatakan sebagai tantangan. Kondisi yang sedang dihadapi nelayan tersebut (mendapat tantangan) dikatakan mempunyai masalah.
Meskipun hampir semua aktifitas kehidupan manusia atau sesuatu institusi mempunyai masalah, namun masalah yang harus dicari solusinya adalah berkenaan kebutuhan, bukan memenuhi keinginan.
Kebutuhan adalah kehendak mendasar (azazi) yang dimiliki seseorang/sesuatu. Sedngkan keinginan adalah pemenuhan kebutuhan dengan kadar lebih baik.
Dari contoh Pak Nelayan tadi dapat diambil beberapa kebutuhannya, yaitu:
1. Jala tidak koyak.
2. Bisa melewati selokan yang mengering akibat air pasang.
3. Uang untuk membayar uang kuliah anaknya menjelang ujian smester.
Sedangkan keinginannya adalah:
1. Jala yang bagus.
2. Mesin pompong (diesel tempel) agar lebih cepat sampai di lopak.
3. Memiliki uang pembayar kuliah anaknya jauh-jauh hari.
Untuk menghadapi berbagai masalah, kemudian tidak muncul masalah yang lain, maka yang dikumpulkan adalah masalah untuk memenuhi kebutuhan. Bukan masalah berekenaan dengan keinginan.

C. Teknik Pengumpulan Masalah
Untuk mengumpulkan masalah yang terdapat pada seseorang/sesuatu dapat digunakan teknik:
1. Menetap di suatu komunitas atau suatu benda dalam jangka waktu sampai bisa memahami dengan baik setiap masalah.
2. Melakukan kaji dokumentasi atau berbagai bukti-bukti yang berhubungan dengan komunitas atau benda tersebut.
3. Mengimventarisasi setiap masalah yang dihadapi oleh pihak-pihak yang mengetahui dengan baik komunitas/sesuatu itu.
4. Menggali masalah dari masyarakat yang berkumpul pada pertemuan khusus.
Tiap-tiap teknik itu memiliki keunggulan dan kelemahan, seperti tampak pada tabel berikut:
No Teknik Keunggulan Kelemahan
1 2 3 4
1 Menetap • Paham betul tentang masalah di kawasan tersebut. • Butuh waktu sangat lama.
• Terpengaruh subjektifitas.
2 Kaji Dokumen • Informasi valid.
• Dapat diulang.
• Tidak butuh banyak tenaga. • Susah mendapatkan dokumen.
3 Inventarisasi • Kenal lapangan lebih dekat.
• Diperoleh informasi sesuai dengan kebutuhan. • Butuh waktu lama.
• Terpengaruh suubjektifitas.
• Butuh banyak tenaga dan biaya.
4 Rapat Khusus • Informasi langsung diketahui orang banyak. • Butuh banyak biaya dan tenaga.



Cara melakukan penjaringan masalah, adalah:
1. Menetap, dengan cara mencatat/merekam semua masalah, apakah yang disampaikan warga lainnya, maupun temuan atau dialami sendiri. Untuk mendapatkan iformasi dari warga lainnya dapat dilakukan secara formal maupun non formal. Celoteh warga di kedai kopi atau saat kumpul-kumpul adalah informasi non formal yang dikutip.
2. Kaji dokumen, dilakukan dengan cara telaah pustaka terhadap dokumen yang dimiliki objek KKN.
3. Inventarisasi, dilakukan dengan cara formal menjumpai warga masyarakat objek KKN, kemudian mencatat semua masalah yang mereka uraikan.
4. Rapat Khusus, banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh masalah pada rapat khusus ini, antara lain;
a. Curah pendapatan (brendstorming),yaitu fasilitator/pemimpin rapat meberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk menyampaikan masalah-masalah yang mereka hadapi.
b. Sistem kelompok, yaitu peserta yang dibagi atas beberapa kelompok berdasarkan topik umum masalah. Semua masalah sesuai topiknya. Hasil kerja kelompok disampaikan pada sidang pleno.
c. Metaplan, yaitu peserta menyampaikan masalah yang dianggap penting dengan cara menuliskan pada sepotong kertas karton manila. Tiap potongan karton manila hanya berisi satu masalah. Selanjutnya potongan-potongan kertas itu disusun sesuai topiiknya. Tiap usulan dalam satu kelompok ditempel di dinding/papan tulis. Selanjutnya lakukan sortasi, yaitu semua usulan yang sama disatukan saja, jika tidak bisa diwakilkan oleh salah satu diantara usulan itu, buat saja judul barunya.

D. Menentukan Masalah Prioritas
Setelah diperoleh sejumlah masalah, tugas selanjutnya menentukan prioritas dari masalah-masalah tersebut.
Tujuan menetukan prioritas adalah untuk Rencana Tindak Lanjut (RTL) darii masalah tersebut. Tentu RTL diawali dengan merumuskan solusinya.
Ada beberapa pertimbangan untuk menentukan prioritas masalah, yaitu:
1. Jumlah usulan. Semakin banyak usulan yang masuk tentang suatu masalah, maka itulah yang menjadi prioritas. Setidak-tidaknya prioritas bagi penyampai usulan.
2. Skala masalah. Semakin besar skala masalah itu maka tentu semakin besar prioritas. Sebab masalah dengan skala besar akan memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Sebaliknya jika skala masalah itu kecil, tentu dampaknya juga sedikit. Misalnya antara masalah sampah dengan pembuatan pagar Kantor Kepala Desa. Sampah bila tidak ditanggulangi akan mendatangkan keresahan hampir bagi seluruh warga, sedangkan bila pagar Kantor Kepala Desa tidak dibuat, mungkin hanya meresahkan pegawai kantor itu.
3. Mendesak atau tidak. Jika suatu masalah semakin medesak untuk ditanggulangi, maka semakin menjadi prioritas. Misalnya antara perbaikan mesin listrik dibandingkan dengan pembuatan saluran irigasi sawah. Jika mesin listrik tidak ditanggulangi maka desa akan gelap gulita dan kegiatan ekonomi akan terganggu, sedangkan jika saluran irigasi belum dibuat selain hanya mempengaruhi aktifitas pemilik sawah itu saja, jika bisa diatasi dengan air hujan atau memompakan air ke sawah tersebut.
4. Kedekatan masalah dengan komunitas. Semakin dekat masalah itu dengan masyarakat/komunitas, maka semakin menjadi prioritas. Misalnya masalah pembuatan pos ronda dibandingkan dengan pembuatan gapura yang terdapat jalan raya.pos ronda baik dampak dan lokasinya lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan dengan gapura yang terdapat di jalan raya, maka pos ronda menjadi prioritas.


“Buatlah sejumlah masalah di Desa Lokasi KKN Anda & Tentukan Masalah-Masalah Mana Yang Menjadi Prioritas”.














5.
Manajemen Daur Proyek
&
Kerangka Kerja Logis
Mengagas suatu pelaksanaan kegiatan tidak bisa terlepas dari manajemen. Sebab manajemen secara sederhana disebut dengan peraturan. Tidak ada satupun kegiatan yang akan terwujud bila tidak diatur.
Berbicara mengenai kegiatan, atau apa saja aktifitas yang mencirikan giat, yaitu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, maka bahasa moderennya adalah proyek. Proyek menurut Maulana (2004 : 427) adalah rancangan pembangunan.
Dalam melaksanakan kegiatan atau proyek mau tidak mau harus berada dalam sebuah siklus (daur) kegiatan, jika tidak ingin kegiatan/proyek tersebut tidak berhasil guna.
Upaya menyusun siklus kegiatan adalah menciptakan kerangka kerja, tentu saja diharapkan kerangka kerja yang logis.

A. Manajemen Proyek
Manajemen proyek dibutuhkan untuk melahirkan keunggulan bagi suatu perusahaan (institusi, kelompok orang, bahkan individu). Menurut Manahan P. Tampubolon (2004 : 233) manajemen proyek yang baik berguna dalam membuat percepatan yang dikehendaki. Artinya, manajemen proyek merupakan kendaraan mmencapai pelaksanaan proyek yang akan memberikan hasil memuaskan.
Manajemen proyek terdiri dari:
1. Perencanaan proyek.
2. Penjadwalan proyek.
3. Jaringan kerja (net working).
4. Percepatan waktu dan biaya.
5. Pola kerja terpadu.
6. Mewujudkan sasaran.
7. Mengendalikan kegiatan.

1. Perencanaan Proyek
Proyek dapat didefenisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang hanya terjadi sekali, dimana pelaksanaannya sejak awal sampai akhir dibatasi oleh kurun waktu tertentu (Manahan, 2004 : 233).
Untuk itu perencanaan proyek harus benar-benar matang. Pada prinsipnya perencanaan proyek terdiri dari (Dachnel Kamars, 2004 : 24):
1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai.
2. Tenaga yang tersedia, ditinjau dari segi jumlah, mutu dan jenis keahlian.
3. Dana yang tersedia.
4. Faktor-fakktor pendukung lainnya.
Perencanaan tenaga yang tersedia menngacu kepada siapa melakukan apa, atau pembagian tugas.
Perencanaan dana merupakan angka-angka yang digunakan sebagai pedoman dalam seluruuh kegiatan proyek. Dana harus dialokasikan sesuai dengan peruntukkan.
Prinsip dasar penyusunan anggaran/biaya adalah:
1. Harus jelas siapa yang berwenang dan yang bertanggung jawab.
2. Harus ditentukan dari semula cara-cara akutansinya (segala hal bekenaan dengan administrasi keuangan).
3. Penggunaan anggaran harus dipatuhi semua pihak sesuai dengan kesepakatan bersama.
Tata tertib penyusunan anggaran adalah:
a. Mengenal dengan baik tentang kegiatan mana yang memerlukan uang, mana yang tidak.
b. Setiap kegiatan dinyatakan dalam jumlah uang dan barag yang diperlukan.
c. Perrubahan/revisi anggaran harus diketahui oleh semua pihak.


2. Penjadwalan Proyek
Dalam penjadwalan proyek dicantumkan tentang penetapan waktu, serta tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan.
Wujud penjdwalan proyek tampak pada kerangka logis yang akan dibahas setelah ini.

3. Jaringan Kerja (networking)
Yaitu orang perorangan maupun institusi dalam masyarakat yang menaruh perhatian terhadap keberlangsungan proyek. Misalnya tokoh adat, alim ulama, cerdik pandai, tungganai, tokoh pemuda, tokoh wanita dsb.
Pihak lain, misalnya anggota Dewan Perwakilan Desa, pengelola Sekolah/Madrasah, pengurus masjid, koperasi, bank, perbengkelan, sawmill, kilang padi, dsb.
Instansi pemerintah, seperti cabang dinas dan badan lain, Kepolisian, TNI, Pukesmas, Kejaksaan, Pengadilan, dsb, serta berbagai Yayasan, organisasi sosial politik, organisasi profesi maupun pihak lainnya yang dapat diakses.
Jaringan kerja tidak tertutup apakah mererka warga negara, yaitu setiap WNI maupun orang asing yang berada di desa tersebut, yang jelas dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan proyek.
Mereka dapat dilibatkan sebagai penasehat, penyandang dana, bahkan mungkin pekerja. Namun yang paling penting, apabila orang-orang/institusi berpengaruh pada desa itu sudah berpihak pada proyek yang dilaksanakan, maka 90% proyek itu sudah berhasil.
Masalah pelaksanaan proyek di pedesaan selama ini adalah masyarakat di daerah tersebut tidak diikutsertakan, sehingga menimbulkan lemahnya responsbilitas mereka, sementara pelaksanaan proyek itu pula mengikatnya dalam sebuah jaringan kerjasama (networking).
Untuk menciptakan networking semua komponen masyarakat harus menyadari bahwa proyek itu hanya akann mempunyai makna apabila merupakan bagian dari suatu usaha terpadu masyarakat.
Seyogyanya semua instansi dan institusi masyarakat berupaya melibatkan diri dalam pelaksanaan program KKN tersebut.
Pihak perusahaan yang beroperasi di daerah sekitar lokasi KKN tersebut dapat memberikan bantuan melalui program Community Development Program maupun program lainnya.
Proses pelaksanaan proyek melalui jaringan kerjasama, memang memerlukan kreatifitas dn aktifitas pihak pelaksana. Namun bisa diperlancar dengan penyertaan masyarakat yang cendrung inovatif atau meminta bantuan LSM terdekat. Tugas LSM bisa mengintensifkan komunikasi dalam proses pelaksanaan, bisa juga memberikan input sesuai kebutuhan dan kemampuan pelaksana. Selain itu dapat diminta sebagai pelatih dan atau pendidik sesuai kebutuhan, membantu penumpukan dan pengembangan modal serta penyelenggaraan berbagai proyek-proyek stimulan yang ditujukan untuk pengembangan desa itu (Hagul : 19).
Responsbilitas masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan perlu ditumbuhkan. Salah satu caranya menurut Hasbullah (2003 : 58) adalah dengan cara menciptakan fundamental education, yaitu memberikan pendidikan yang bertujuan membantu masyarakat mencapai kemajuan sosial ekonomi sehingga produk dari proses belajar itu menempati posisi yang layak. Hal ini sangat cocok diterapkan di desa, karena salah satu ciri daerah terpenncil, kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya juga tertinggal. Apabila ada seseorang menemmpati posisi lebih layak dibandingkan dari pada yang lain, mereka akan mengikuti dan mengahargai pihak-pihak yang mampu memberikan posisi layak tersebut.
“Buatlah Daftar jaringan Pendukung (networking)yang diharapkan dapat memberikan kontribusi pada proyek KKN yang sedang anda kerjakan “.
Jaringan Pendukung (networking)
Proyek KKN ...................
Desa ..................... Kec. ............................

No Nama Jabatan Peran yang diharapkan Ket



























........................, 2008
Administrator Proyek,

....................................................
(Nama Mahasiswa Peserta KKN)




4. Percepatan Waktu dan Biaya
Pada kenyataannya, setiap pelaksana kegiatan selalu ingin memperpendek waktu jalur kritis agarr waktu penyelesaian objek dapat dipercepat, walaupun dengan resiko pembiayaan lebih tinggi. Setiap kegiatan sebenarnya bisa dipercepat setidak-tidaknya tepat waktu.
Beberapa cara agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu adalah (Manahan Tampubolon, 2004 : 244):
1. Laksanakan yang tidak terlalu kopmleks. Jika harus mengerjakan proyek demikian pecah proyek tersebut atas beberapa sub bagian.
2. Jangan terjebak dengan berbagai sumber masukan yang jumlahnya sangat banyak. Masukan tersebut antara lain; usul/saran, rancangan, biaya, tenaga kerja, perangkat kerja, dsb.
3. Tentukan waktu minimum, yaitu waktu terpendek yang mungkin bisa dilaksanakan untuk tiap sub bagian proyek.
4. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan pada jalur kritis, yaitu mengenalai bagian-bagian proyek yang mungkin mendapat hamabatan. Apabila anisipasinya dapat dilakukan sebelum proyek itu dilaksanakan tentu akan memperkecil kegagalan.
5. Selalu melakukan evaluasi.

5. Pola Kerja Terpadu
Pola Kerja Terpadu (PKT) merupakan suatu upaya mencapai hasil kerja dengan menggunakan pendekatan sasaran atau atas dasar hasil (result oriented) yang telah ditetapkan bersama komunitas/masyarakat (state holders)tempat dimana proyek atau kegiatan diiselenggarakan (Pitoyo-Djoenaedi Tamin, 2001 : 3).
PKT akan memberikan langkah-langkah tentang bagaimana mewujudkan sasaran proyek. Langkah-langkah kegiatan tersebut merupakan urutan tata langkah yang berkesinambungan, dilakukan secara simultan, dan memerlukan koordinasi, komunikasi, motivasi, pembagian tugas secara tuntas, pembatasan waktu dalam menyelesaikan tanggung jawab, kualitas dan kuantitas yang dikerjakan, pembiayaan dan sumbernya, penanggung jawab dan penanggung gugat, penjadwalan, monitoring evaluasi, feedback, dan sebagainya.

Prinsip PKT, terdiri atas:
a. Kebersamaan. Penyusunan PKT dikerjakan secara bersama-sama dengan berbagai pihak. Hal ini akan mempermudah pelaksanaan proyek.
b. Disiplin. Artinya disiplin waktu penyellesain tugas, disiplin mencapai sasaran kerja serta disiplin anggaran.
c. Kepastian. Rencana dapat dapat terlaksana dengan baik karena sudah terukur dan dipertimbangkan secara matang dari segala sumber.
d. Transparansi. Proyek tampak jelas dan rencana yang disusun dapat dilihat dan diikuti semua orang, sehingga semua orang dapat menilai proyek itu.
e. Pembagian tugas dan tanggung jawab. Setiap orang yang terlibat di dalam proyek mempunyai tugas sendiri-sendiri yang terinci dan jelas, sehingga tidak tumpang tindih, melampaui kewenangan tugas, dsb, sehingga apabila terjadi penyimpangan/kesalahan mudah dicari penanggung jawabnya.
f. Koordinasi. Tiap bagian kerja berjalan secara serasi melalui koordinasi sehingga terjadi kesinambungan dan langkah-langkah kerja yang diketahui bersama.
g. Komunikasi. Tiap tindakan harus diberitahukan kepada bagian lain sehingga dia akan berbuat pula.
h. Motivasi. Pelaksanaan prooyek harus bersemangat. Salah satu caranya dengan mencantumkan nama-nama pelaksana dalam Matriks Kegiatan, pada plang nama papan proyek, dsb.
i. Pengawasan melekat. Pelaksana proyek harus mengawasi dirinya sendiri dalam melakukan tugas. Pelaksana harus dapat mengukur kemampuannya dalam menyelesaikan tugasnya karena tugas tiap pelaksana sudah ditulis secara rinci. Jadi yanh diawasi adalah proses kerja seseorang dan dirinya sendiri.
j. Akuntabilitas. Proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kepada atasan maupun masyarakat. Oleh karena itu tiap pekerjaan perlu diberi kode gagal atau berhasil.

6. Mewujudkan Sasaran
Sasaran kerja akan terwujud tentu saja kegiatannya dilaksanakan, sedangkan kegiatan akan berjalan baik bila motivasii ada dalam diri pelakunya (Pitoyo, 2002 : 45).
Motif adalah gaya gerak dalam diri seseorang yang mendorong dia untuk berbuat sesuatu. Motivasi adalah pembangkit, penimbul motif sehingga merupakan proses yang mendorong seseorang berprilaku dengan cara tertentu.
Penggerakan (motivating) adalah keseluruhan motif bekerja kepada seluruh komponen yang terlibat dalam suatu proyek sehingga mereka bekerja dengan ikhlas untuk mewujudkan sasaran yang sudah ditetapkan.
Seseorang akan bekerja apabila ada harapan untuk terpenuhinya kebutuhan internalnya. Sedikitnya terdapat lima jenjang kebutuhan (Teori A. H. Maslow), yaitu:

1. Kebutuhan fisik (phisycal needs), yaitu kebutuhan primer.
2. Kebutuhan keamanan (Safety needs), yaitu kebutuhan mendapatkan perlindungan.
3. Kebutuhan sosial (social needs), kebutuhan hidup sebagai mahluk sosial.
4. Kebutuhan penghargaan (esteem needs, yaitu kebutuhan mendapatkan penghargaan atas usahanya.
5. Kebutuhan perwujudan diri (self actualization needs), yaitu kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan pribadi.
Semua orang akan melaksanakan suatu kegiatan apabila salah satu atau beberapa kebutuhan tersebut di atas yang dia harapkan ada harapan untuk terpenuhi. Dengan demikian apabila hhendak menggerakan orang-orang untuk melakukan suatu pekerjaan itu bersentuhan dengan pengaharapan pemenuhan kebutuhan orang tersebut.
7. Mengendalikan Kegiatan
Pengendalian merupakan upaya untuk menelaah pekerjaan yang sedang berlangsung apakah sudah berada pada relnya atau sudah melenceng.
Sebaikmya pengendalian bukan mencari kesalahan untuk hukuman, tetapi upaya untuk membina agar sasaran kerja dapat dicapai sesuai dengan program, jatah waktu, biaya, maupun sumber daya lainnya yang tersedia.
Dalam melakukan pengendalian ada lima hal yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Menetapkan sasaran hasil kerja.
b. Membandingkan hasil kerja nyata dengan standar yang sudah ditetapkan.
c. Menentukan titik penyimpangan.
d. Mengambil tindakan korektif.
e. Membangun sistem balikan.
Salah satu aspek penting yang dikendalikan adalah standar waktu kerja yang telah ditetapkan dalam sasaran. Waktu sangat penting untuk dikendalikan.
Perangkat melakukan pengendalian yang sering dilakukan pada proyek adalah Laporan Pengendalian Kegiatan.
Format laporan tersebut berisi antara lain:
1. Kegiatan yang dijadikan target, yaitu target-target kerja yang harus dicapai dalam penggalan waktu tertentu.
2. Titik kontrol. Secara sederhana titik kontrol hanya untuk melihat apakah kegiatan tersebut termasuk Standar (S), dan memiliki kemajuan(K) karena melebihi target, atau sudah bisa disebut Realisasi (R).
3. Penyimpangan, yaitu titik-titik penyimpangan yang terjadi.
4. Tanggung jawab/koreksi, adalah saran untuk memperbaiki penyimpangan itu dan dikerjkan oleh siapa.
“ Buatlah Laporan Pengendalian Kegiatan pada proyek KKN yang sedang anda kerjakan”.

Laporan Pengendalian Kegiatan
Proyek KKN .........................
Desa. .................................. Kec. .........................................

No Kegiatan Titik Kontrol
(S/K/R) Penyimpangan T. Jawab

























....................., 2008
Administrator Proyek,


..............................................
(Nama Mahasiswa Peserta KKN)



B. Kerangka Kerja Logis
Kerangka Kerja Logis adalah upaya pelaksana kegiatan/proyek untuk mempetakan seluruh rangkaian kegiatan/proyek untuk dijadikan patokan dalam bekerja.
Kerangka Kerja Logis adalah perwujudan Rencana Tindakan yang disertai dengan jadwal waktu serta pihak-pihak pelaksana.
Dalam membuat Kerangka Kerja Logis perlu ditetapkan upaya pengawasan. Pengawasan adalah upaya untuk menetukan keberhasilan langkah-langkah pelaksanaan strategi yang sudah diambil, dengan menetapkan target yang harus dicapai.
Pekerjaan/tindakan dapat dikatakan berhasil apabila dicapainya terget minimal 90%.
Menyigi pencapaian hasil kerja disebut juga dengan evaluasi. Sedanggkan evaluasi adalah refleksi terhadap kegiatan berdasarkan kepada pencapaian target, kemudian dianalisa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil yang dicapai. Kemudian ditentukan Rencana Tindakan selanjutnya.
Kerangka Kerja Logis dibuat dalam bentuk matriks (tabel). Matrik tersebut memuat informasi tentang kegiatan yang dilakukan dalam perwujudan proyek tersebut, jadwal (waktu pelaksanaan proyek), pelaksana (penanggung-jawab pelaksanaan proyek), pengawasan (target), serta evaluasi yang berisi prosentase pencapaian kerja dibandingkan dengan target.


“Buatlah daftar Kerangka Kerja Logis pada proyek KKN yangsedang anda kerjakan”.











Kerangka Kerja Logis
Proyek KKN ..........................
Desa. ....................... Kec. ...........................

No Kegiatan Jadwal Pelaksana Pengawasan
(target) Evaluasi


























.................., 2008
Administrator Proyek,

.......................................
(Nama Mahasiswa Peserta KKN)
















6.
Promosi Kegiatan

Buat apa meruntuh gunung jika orang lain tidak tahu.

Pada masa pemerintahan Shogun Tokugawa di Jepang, dia dikatakan Bapak Pembangunan Luar Biasa, karena dia mengumumkan akan meruntuh gunung 100 tahun yang akan datang untuk dijadikan pemukiman. Padahal sebenarnya ada seorang perempuan tua di pelosok Jepang sudah sejak 100 tahun yang lalu meruntuh gunung sendirian untuk dijadikan pemukiman. Namun perempuan tua tersebut jangankan mendapatkan gelar kehormatan, orang berkomentar saja tidak pernah ada, karena usahanya tidak diketahui oleh orang lain.
Pepatah kuno itu memuat pengertian bahwa apapun kegiatan/usaha duniawi yang dilakukan seyogyanya diinformasikan kepada pihak-pihak berkompenten. Jika tidak, terbesit bahwa akibat mengerjakan kegiatan, meskipun positif, akan mendatangkan dampak negatif.
Misalnya ada seorang lelaki tua pada malam hari mendorong sepeda motor yang kempes. Seorang pemuda yang mengendarai pick up merasa sangat kasihan. Akhirnya pemuda itu membantu si kakek menaikan sepeda motor itu ke bak mobilnya. Tidak lama kemudian datang segerombolan orang dan polisi. Si pemuda tertangkap tangan karena terbukti melakukan pencurian sepeda motor. Sedangkan kakek dengan lugunya ngeloyor, sembari bergumam “memang baik pelangkahan ku, sekali lagi lepas dari jeratan,”
Namun apabila pemuda itu bertanya panjang lebar dulu kepada si kakek, atau mungkinkan menyampaikan niatnya kepada orang yang kebetulan lewat, ceritanya akan menjadi lain.
Memang mengembar-gemborkan kegiatann yang akan dibuat hanya berlaku untuk duniawi. Tidak demikian dengan ibadah. Justru sebaiknya kebaikan (ibadah) dilakukan disembunyikan.
Manfaat memberitahu kegiatan yang hendak dilakukan kepada pihak-pihak yang berkompenten adalah, antara lain:
1. Mempromosikan ide dan kemampuan diri/organisasi.
2. Memberikan penjelasan kepada pihak lain, sehingga paham tentang kegiatan tersebut.
3. Terhindar dari prasangka buruk.
4. Munculnya dukungan dari pihak lain.
5. Sebagai pengumuman resmi.

A. Promosi Potensi
Promosi merupakan bagian yang sangat penting dari keberhasilan usaha. Apabila dipergunakan secara efektif, ia akan memberikan hasil-hasil dramatis yang dapat melebihi yang lainnya, faktor-faktor lain yang sama pentingnya (Gonnie Mc Clung Siegel, 2003 : 11).
Defenisi promosi dapat disebutkan sebagai upaya yang dilakukan untuk mengimpormasikan potensi diri yang dimiliki kepada pihak lain dengan harapan pihak berkompeten memberikan fasilitas yang sesuai dengan keinginan.
Potensi apa saja yang dapat diinformasikan kepada pihak lain ?
1. Semua hal berkenaan fisik, misalnya semua benda yang dimiliki yang dapat menunjang pencapaian tujuan kegiatan, semua sumber daya manusia, dsb.
2. Semua hal berkenaan dengan mental, antara lain menyangkut keterampilan, pengalaman, ilmu pengetahuan, sifat baik yang dimiliki, dsb. (Maxwell Maltz, 2005: 19)
3. Kekuatan tersembunyi (Hidden Power), yaitu keunggulan yang dimilki di luar fisik maupun mental. Misalnya hubungan baik dengan pengambil kebijakan (decion maker), memiliki masa/pendukung yang banyak, disegani, dsb.
4. Gagasan ide baru yang selama ini belum pernah ada.
5. Imajinasi cemerlang yang dapat menjawab persoalan yang terjadi.
6. Pelayanan prima yang dapat diberikan (Gonnie, 2003 : 21).
Tujuan promosi antara lain (Gonnie, 2003 : 27):
a. Mendapatkan perhatian yang menguntungkan dari pihak-pihak yang diharapkan.
b. Menciptakan minat untuk usaha tersebut.
c. Merangsang tindakan atau tingkah laku pihak-pihak berkompenten terhadap kegiatan tersebut.
d. Meningkatkan keuntungan baik langsung maupun secara tidak langsung.

B. Mengerjakan Promosi
Pada saat dimulai ide promosi, tulislah setiap rencana yang digunakan akan mendukung pencapaian tujuan, tegaskan bagaimana promosi dapat meningkatkan pencapaian tujuan tersebut.
Setelah itu, langkah-langkah melakukan promosi adalah:
1. Tentukan jenis promosinya.
2. Buat dokumen (blue print) informasi yang akan dipromosikan sesuai jenis promosinya.
3. Evaluasi dampak promosi yang dilakukan.
4. Lakukan promosi bentuk lainnya.
Jenis promosi yang lazim dikenal berdasarkan modenya, terdiri dari:
a. Promosi jenis konvensional, misalnya informasi dari mulut ke mulut, pengumuman, mengirimkan surat ke berbagai pihak, konferensi, demo, pameran, dsb.
Apabila memilih promosi jenis ini tentu blue print yang akan dibuat adalah hasil pengumuman yang singkat dan padat serta surat-surat resmi.
b. Promosi jenis modern, yaitu promosi dengan menggunakan perangkat yang lebih baik sehingga pengerjaannya lebih rumit, misalnya iklan, pariwara, penggunaan selebaran, spanduk, baliho, dsb, yang biasanya membutuhkan penanganan khusus.
Apabila memilih jenis promosi ini maka dokumen yang perlu dibuat adalah informasi lengkap (profil/proposal kegiatan).
Berdasarkan alat yang digunakan untuk promosi, maka dikenal pula jenis-jenis promosi, yaitu antara lain:
a. Promosi menggunakan media terbatas, misalnya promosi melalui selebaran, pengumuman, pemberitahuan keliling, spanduk, baliho, selebaran, SMS, MMS, dsb.
b. Promosi menggunakan media lokal, misalnya pameran, konferensi, demo/pertunjukan, dsb.
c. Promosi menggunakan media massa, yaitu media yang penyebarannya tidak terbatas. Misalnya melalui TV, koran, majalah, internet, dsb.
Berdasarkan pengerjaannya, maka dikenal pula promosi dengan cara, antara lain:
a. Promosi mandiri, yaitu dikerjakan oleh pemilih usaha/kegiatan tersebut. Misalnya surat, demo/pertunjukan, konferensi, pengumuman, dsb.
b. Promosi lembaga, yaitu promosi yang dikerjakan oleh lembaga tertentu. Misalnya pameran, hubungan masyarakat, instansi pemerintah bidang promosi (Badan Penanaman Modal/Inventasi, Bappeda, Humas), dsb.
c. Promosi usaha jasa, yaitu promosi menggunakan jasa dari institusi yang bergerak di bidang tersebut. Misalnya melalui media masa, percetakan, sablon, foto, film, dsb.

C. Membuat Proposal
Pada prinsipnya apapun jenis promosi yang dipilih untuk “menjual” kegiatan dibutuhkan proposal. Ada anggapan salah, bahwa proposal identik dengan kelengkapan untuk mencari dana atau meminta sumbangan.
Pengertian proposal adalah usulan atau penawaran diri (Achmad Maulana, 2004 : 424).
Jadi, proposal adalah dokumen resmi yang dikeluarakan untuk menggambarkan seluruh rangkaian kegiatan yang hendak dilakukan untuk diajukan kepada pihak-pihak berkepentingan dengan kegiatan tersebut.
Isi proposal pada prinsipnya latar belakang dan identifikasi masalah, yang pada pokok menguraikan konteks permasalahan, pentingnya masalah itu ditanggulangi (dikerjakan) dan manfaat yang diharapkan dari hasil kegiatan/pekerjaan/proyek tersebut jika sudah selesai. (Suwondo dkk , 2004 : 28).
Secara keseluruhan isi proposal terdiri atas:
1. Pendahuluan.
Berisi hal-hal yang melatarbelakangi mengapa kegiatan tersebut penting dilakukan dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan permasalahan, pentingnya masalah ini diatasi dan manfaat yang diharapkan dari hasil kegiatan tersebut. Permasalahan yang diangkat adalah kondisi real yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi ideal. Misalnya kegiatan kita adalah penambahan tulisan Arab Melayu pada plang nama jalan. Kondisi real adalah tidak satupun plang nama jalan yang disertai tulisan Arab Melayu, padahal ini penting untuk mencirikan Kebudayaan Melayu.

2. Perumusan masalah.
Menguraikan perumusan masalah-masalanya dengan kalimat negatif, baik berupa pertanyaan terbuka, maupun pertanyaan problematis. Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara eksplisit mengambarkan tahap-tahap diagnosis masalah, tetapi atau tindakan yang dilakukan untuk memecahkan masalah dengan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan yang diambil. Pada proposal lengkap, biasanya juga dijumpai uraian khusus tentang tujuan kegiatan/proyek tersebut dan manfaatnya.

3. Kajian Pustaka dan Penelitian yang Relevan
Berisi kajian pustaka untuk mendasari tindakan yang direncanakan sebagai pemecahan masalah, dan hasil-hasil penelitian/kegiatan serupa yang sudah berhasil di suatu tempat. Sedapat mungkin diusahakan agar dapat mempertimbangkan kemuktahiran dan relevansi bahan pustaka. Di akhir bagian ini biasanya dapat dirumuskan suatu hipotesis tindakan. Hipotesis tindakan dapat dirumuskan berdasarkan teori, pengalaman, atau hasil kegiatan serupa di tempat lain. Rumusan hipotesis tindakan hendaknya meyatakan intervensi yang akan dilaksanakan dan hasil yang diperoleh.

4. Tujuan Kegiatan.
Berisi tentang tujuan operasional yang ingin dicapai melaui kegiatan/proyek ini.

5. Kontribusi Kegiatan/Proyek.
Berisi tentang manfaat yang akan diperoleh dengan melaksanakan kegiatan/usaha/proyek tersebut.

6. Metode Kegiatan/Proyek.
Metode atau prosedur melakukan kegiatan/proyek yang menguraikan secara rinci tentang:
a. Setting yang akan menjelaskan tentang lokasi proyek/kegiatan, karakteristik lingkungan sosial masyarakatnya dan karakteristik pelaksana kegiatan/proyek.
b. Subjek yang terlibat sebagi tenaga kerja, kolaborator, atau partisan.
c. Alat-alat dan teknik pengerjaan kegiatan.
d. Rencana tindakan, yang dikaji melalui langkah-langkah yang ditempuh melalui tahapan-tahapan atau siklus pekerjaan, antara lain fase diagnostik (mengidentifikasi problem) dan fase terapeutik (pemecahan problem).
e. Sumber informasi.
f. Jenis kegiatan.
g. Teknik pengerjaan.
h. Kriteria, indikator, atau rambu-rambu evaluasi dan reffleksi kegiatan.

7. Personalia Proyek.
Tim pelaksana yang mengerjakan kegiatan/proyek di lapangan. Nama-nama tim serta kualifikasi/keahlian yang dimiliki anggota tim tersebut harus dicantumkan. Jika perlu pengalaman kerjanya dan track record yang relevan dengan kegiatan tersebut, tertera pada CV (curriculum vitae).

8. Rencana Pembiayaan.
Berisi rincian rencana pengeluaran biaya. Menyangkut pembelian alat, bahan, administrasi, transportasi, konsumsi, dan sebagainya.

9. Jadwal Kerja
Jadwal kerja yang dimaksud dapat berupa matriks kegiatan yang sudah disusun.

10. Lampiran
Hal-hal yang dapat mendukung keberhasilan kegiatan sebaiknya dilampirkan. Misalnya surat-surat penting, foto kondisi sebelum kegiatan, foto pra kiraan kegiatan setelah selesai (jika ada, dapat memakai foto di lokasi lain), rancangan/gambaran kegiatan.

“Buatlah secara berkelompok proposal proyek KKN anda. Lampirkan bersamaan dengan buku ini/laporan pelaksanaan KKN”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar